Sabtu, 01 November 2008

Saatnya Pemuda Berkarya

Knowledge is power but character is more. Ilmu pengetahuan adalah utama, tetapi karakter (moral) lebih utama. Pengetahuan atau prestasi akademik tak akan bermakna tanpa moral atau akhlak yang mulia. Apalah gunanya pengetahuan yang luas jika pribadi kita sempit, egois, dan jauh dari etika moral yang mulia. Adalah kewajiban kita membuktikan karakteristik ilmu padi. Semakin tumbuh tinggi, semakin merunduk. Semakin tinggi pengetahuan semakin rendah hati dan menjadi teladan bagi masyarakat baik dalam segi pemikiran maupun tindakan. Pribadi yang jujur, disiplin, dermawan, dan egaliter adalah sebagian akhlak mulia yang wajib dimiliki oleh duta masyarakat (pemuda). Jangan berbicara memperbaiki bangsa dan negara jikalau memperbaiki pribadi pun tidak mau.

Potensi pemuda sungguh besar. Namun, Potensi tinggallah potensi. Ibarat pedang yang sangat tajam; ketajamannya tidak menjadi penentu bermanfaat-tidaknya pedang tersebut. Orang yang menggenggam pedang itu-lah yang menentukannya. Pedang yang tajam terkadang digunakan untuk menumpas kebaikan dan mengibarkan kemaksiatan, jika dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, jika berada di tangan orang yang bertanggung jawab dan tidak bisa menjalankan peran kultural dalam kehidupan masyarakat, ketajaman pedang itu akan membawa manfaat. Demikian juga dengan potensi pemuda. Potensi yang begitu hebat itu bisa dipergunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, bisa juga untuk memperkokoh kejahatan dan kedurjanaan. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh pemuda-pemuda yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi peradaban, dan menghancurkan kemuliaan suatu tatanan kehidupan.

Inilah saatnya moral yang baik dibuktikan dengan karya-karya asli anak bangsa lewat Festival Film Independen sebagai wujud kepedulian dan peran pemuda dalam membangun bangsa. Walaupun cakupan Film Independen hanya terbatas pada wilayah Jawa Tengah dan DIY, tetapi kegiatan ini bukan berarti menjadikan kita primordial. Justru sebaliknya, kecintaan akan budaya daerah sendiri pada akhirnya akan juga melahirkan kecintaan pada budaya bangsa secara menyeluruh.

Hal yang sangat penting dan perlu diingat bahwa kita perlu khawatir karena potensi pemuda mulai diracuni dengan racun yang terus disebarkan oleh orang yang tidak bertangung jawab. Mereka meracuni anak bangsa ini dengan budaya yang tidak mendidik, seperti penampilan glamor yang jauh dari adat ketimuran. Media yang tidak mendidik, membuat kehidupan 85 persen pemuda kita sudah diracuni dengan budaya yang disebarkan negara Barat.Belum lagi racun yang luar biasa bahayanya, yakni narkoba yang peredarannya kini sangat memprihatinkan. Hal itu yang harus dilawan oleh pemuda yang masih bisa bertahan dengan fungsinya saat ini: Pemuda sebagai pengubah bukan diubah. Lewat film mari kita ciptakan pemuda-pemudi yang memilki kepedulian yang paling tinggi untuk bangsa. Bangsa tanpa pemuda seperti tubuh tanpa jiwa, akan terasa hampa dan mati. Taufik Abdullah menyebut kehadiran pemuda bukanlah semata-mata gejala demografis, tetapi juga sosiologis dan historis, yaitu bahwa munculnya generasi muda tidak hanya mengisi sebuah generasi baru dalam sebuah masyarakat tetapi juga merupakan subjek potensial bagi sebuah perubahan pada masyarakat itu sendiri. Cita-cita dan niatan tulus untuk dapat berkontribusi dalam membangun Bangsa, serta berharap mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak.

Budayaku Sayang

Tempus mutantur, et nos mutamur in illid. Waktu berubah dan kita ikut berubah juga di dalamnya. Demikian pepatah Latin kuno yang mungkin masih kita temukan aktualitasnya sampai sekarang. Waktu berubah dan cara-cara manusia mengekspresikan dirinya, menelusuri jejak pencarian makna tentang siapakah dirinya, orang lain dan dirinya bersama orang lain (masyarakat juga berubah). Jika dikatakan bahwa tidak ada yang tetap di dunia ini mungkin yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri. Begitu juga dengan budaya atau kebudayaan (culture). Seturut konteks zaman yang berubah, orang-orang dengan alam pikir dan rasa, karsa dan cipta, kebutuhan dan tantangan yang mengalami perubahan, serta budaya pun ikut berubah.

Ketika kita berbicara perubahan apalagi tekait dengan budaya, sebelumnya kita harus tahu budaya seperti apa yang berubah. Kalau kita melihat budaya sebagai satu corak khas yang memang harus dijaga dan dilestarikan maka perubahan atas diri budaya tersebut sebisa mungkin dicegah jangan sampai mengalami perubahan. Kalaupun mengalami perubahan, mungkin yang lebih tepatnya kita memodifikasi atau merubah bentuk luarnya saja, substansi dan nilai budaya itu sendiri tidak perlu dirubah.

Salah satu wujud dari usaha mempertahankan eksistensi budaya sendiri, dalam hal ini adalah budaya asli milik bangsa Indonesia, maka kami yang tergabung dalam kepanitiaan Festifal Film Independen mencoba untuk menjebantani rasa kepedulian dan rasa kecintaan kepada budaya melalui film. Rasa cinta tanpa ada wujud yang konkrit adalah dusta. Apa lagi kita memasuki era globalisasi yaitu jaman dimana kita dituntut bersaing dengan budaya dan peradaban luar secara bebas. Kita tentu tidak menginginkan peristiwa seperti Ambalat, Sipadan dan Ligitan terulang lagi, apalagi ditambah dengan kasus pengklaiman sepihak atas budaya asli Indonesia atas Reog Ponorogo oleh Malaysia. Kejadian ini merupakan indikator bahwa rasa memiliki atas kebudayaan asli Indonesia mengalami degradasi, sehingga pada akhirnya kita kecolongan. Perlu adanya satu titik balik tentang kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Bangsa, budaya kita tercinta. Festival Film Independen hadir bukan sebagai satu tren dalam ranah modern seperti sekarang ini, Festival Film Independen hadir sebagai wujud dari apresiasi jiwa-jiwa para generasi penerus bangsa yang benar-benar memiliki kepedulian terhadap kondisi budaya Indonesia yang semakin dianak tirikan.

Minggu, 19 Oktober 2008

Sedikit tentang Festival film

Festival film ini diadakan atas dasar wujud apresiasi budaya yang ada di Indonesia. Dengan tetap mengedepankan identitas kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Ini kami dasari atas sebuah keprihatinan kami terhadap makin memudarnya budaya sebagai integritas bangsa. Sebagai sontoh ketika budaya kemandirian yang kita miliki kemudian digantikan dengan begitu saja oleh budaya ketergantungan dari pihak asing. Bukti konkritnya dapat kita lihat dan rasakan betapa semakin menghegemoninya peradaban neoliberal terhadap tatanan sosial, politik, maupun budaya Indonesia itu sendiri. betapa kita begitu mengagungkan budaya nelib tersebut tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya kita pun adalah bangsa yang berbudaya. Dari pemahaman ini, kita tahu bahwa ranah budaya merupakan ranah yang sangat potensial bagi timbulnya suatu hegemoni. Budaya sebagai identitas bangsa sangat penting untuk menunjukkan eksistensi bangsa kita. Akhir-akhir ini kita mulai meninggalkan dan lupa akan budaya-budaya yang dimiliki bangsa kita seperti budaya gotong-royong, musyawarah mufakat, hormat-menghormati, serta banyak lagi budaya luhur yang dimiliki oleh bangsa kita. Melalui kegiatan festival film independen ini, diharapkan kita mulai sedikit-demi sedikit menengok apa saja sebenarnya yang terjadi dengan budaya kita, apakah mengalami kemajuan, atau mengalami kemunduran bahkan mengalami distorsi nilai. Dengan melihat kondisi realita melalui film ini, diharapkan kita kembali sadar akan budaya bangsa kita dan dengan demikian diharapkan akan tumbuh kesadaran dan motivasi untuk melestarikan budaya banngsa yang beraneka ragam dan bernilai luhur. Kegiatan ini diselenggarakan atas maksud tersebut. namun ini hanyalah sebuah langkah kecil. Sebab yang menentukan adalah komitmen dari seluruh elemen bangsa ini untuk melestarikan budaya bangsa sebagai jati diri dan identitas bangsa. Dengan adanya festifal film ini diharapkan pula para pecinta film indie mampu memberikan potret kehidupan berbangsa dan berbudaya di negeri ini yang banyak dinilai telah pudar. Misalnya saja saat ini Indonesia dikenal memiliki budaya korupsi, tidak disiplin, malas, plagiat, dan sebagainya.

Waktu dan Tempat Kegiatan

1. Pemutaran Film Tanggal : 24 November 2008 Pukul : 20.00 – selesai Tempat : Gedung Soemardjito, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah.

2. Workshop dan Malam Penganugerahan

Tanggal : 25 NovemvberbPukul : 14.00 - selesai Pukul : 14.00 wib - selesai Tempat : Gedung Soemardjito, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, JATENG

Acara dimeriahkan oleh penampilan band-band lokal (Retro Brur, Bikini Bottom), serta ada pula penampilan dari para dancer.

Peserta Kegiatan Peserta kegiatan Festival Film Independen adalah para pecinta film Independen khususnya dan para mahasiswa serta pelajar pada umumnya yang berada di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.